Hei! Kayaknya udah lama aku nggak bercuap-cuap di sini. Ngomong-ngomong aku baru pulang dari live in lho, dan guess what? Pulang-pulang aku langsung pengen jadi anak perempuan YANG SEHARUSNYA. Host-ku punya 2 anak perempuan yang manis-manis, yang sulung kelas 1 SMA dan dia sangat sangat berguna bagi ibunya. Haha beneran aku jadi ngerasa kayak kebo kalau bandingin kelakuanku di rumah daripada kelakuannya yang super rajin sekali. Dan tentu saja waktu sampai di rumah, setelah membereskan barang-barang tanpa babibu aku bantuin ibuk ngepel. Kuulangi lagi ya, AKU NGEPEL! Gilaaaa, dunia memang mau kiamat haha. Begini kira-kira reka kejadiannya:
Ibu : *ngepel di depanku*
Aku : Buk aku mau ngepel!
Ibu : Apa?
Aku : Mau ngepel!
Ibu : Sapa? Kamu?
Aku : He’eh!
Ibu : ???
Tapi kejadian berikutnya adalah aku kebanyakan pake pembersih lantainya, jadi yaa.. begitulah. Dan nggak cuma itu aja, aku juga berniat buat nyuci baju-baju kotorku yang seabrek habis dari pbc, tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin besok mbakku malah udah nyuciin duluan -.- Eh masih belum selesai, ini dia nih niat terbesarku, sumpah demi apa aku pengen buanget belajar masak. Astaga masak itu benar-benar menentukan masa depanku. Aku harus bisa masak kalau-kalau besok aku harus hidup sendirian, kalau ibuk udah bener-bener cuma ngandalin mie instan di setiap jam makan, dan yang terpenting aku nggak mau menyiksa anak-anakku nanti dengan mie instan. Oh ya sebelum ngepel, aku menemukan fakta terupdate di rumahku. Tanamanku di deket keran depan rumah yang udah tumbuh dengan kerennya sejak aku lahir terserang BAYI ULAT BULU warna orange. Bagus deh, keren sekali rumahku, baru 3 hari tak tinggal aja udah kedatangan tamu-tamu spesial. Tapi sumpah uletnya nggak keren, kecil-kecil (nggak gede kayak yang di tv), berwarna orange cerah (yang bagusnya serasi sama cat rumahku, jadi kalau udah merambah ke dinding nanti masih catchy lah..), berjalan suangat cepat (mungkin karena masih kecil), berbulu, dan hebatnya lagi berkoloni sangaaaaat banyak. Dan begitu aku bilang ibuk, ibuk langsung memikirkan ratusan strategi buat membasminya langsung.
Oh ya, rumahku lagi direnovasi. Dan membuat rumah jadi sangaaat berdebu. Untunglah ada pbc yang membebaskanku dari debu-debu itu selama 3 hari. Nah waktu pulang tadi, ternyata rumahku udah lumayan oke dan kata ibuk mungkin minggu depan udah jadi. yeay! Nggak sabar mau nempatin kamar baru hihi. Oh ya, aku belum bilang ya? Aku udah nggak mau belajar farmasi di perguruan tinggi besok. Bukan farmasi, tapi arsitek. Haha iya aku tahu mereka sangat berbeda jauh. Alasannya? Nggak tahu, rasanya cuma ngikutin kata hati, bukan logika. Nah, tapi nggak tahu juga kalau nanti Tuhan berkata lain. Well, just enjoy living your question.
Oh ya sebagai tambahan, anak host-ku yang kuceritain tadi (itu lho yang rajin) pengen banget belajar farmasi atau jadi perawat kalau kuliah nanti. Nggak, aku nggak kepengaruh kok. Cuma waktu liat matanya waktu ngomong gitu, rasanya jadi kayak liat aku dulu waktu berkoar-koar pengen belajar farmasi. Well, itu dulu. Moga aja aku punya semangat sebesar itu atau bahkan lebih besar lagi di arsitek
Nah, yang terakhir. Gimana rasanya menahan untuk mengungkapkan sesuatu yang bahkan tidak ingin diyakini? Gimana rasanya ingin meyakini sesuatu saat sesuatu itu malah dianggap hina oleh orang lain? Gimana rasanya mencari jutaan sisi positif dari hinaan-hinaan itu? Gimana rasanya mencari kejujuran dari jutaan pujian yang dilontarkan orang-orang? Tanya saja aku, aku ahlinya saat ini. Tapi yang terpenting dan mungkin yang bisa jadi jawaban atas kelemahanku selama ini:
Manusia bergerak dari perasaan suka atau tidak suka, bukan melulu logika.